Di balik kematian Muktiasih, TKI Desa Karangreja ini ada kisah tentang jerat utang bank kloyong, sebutan untuk rentenir di desa-desa. Agus Sutoro, Plt Kepala Dusun III sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Desa Karangreja, mengatakan, agen penggaet nasabah bank kloyong masuk ke pelosok-pelosok desa dan menawarkan pinjaman tanpa persyaratan yang rumit. Hal ini membuat jasa pinjaman ini laris manis di perdesaan.
Meskipun pinjaman mudah didapat, Agus mengatakan bunga pinjaman bisa mecapai 50 persen. Inilah yang menurut Agus menjadi penyebab warga sulit melunasi utang bank kloyong. “Pinjaman sih nggak banyak, Rp 500 ribuan. Tetapi kan bunganya bisa sampai 50 persen,” kata Agus.
Kesulitan makin menjadi ketika warga berhutang lebih dari satu penyedia jasa pinjaman. Agus mengatakan, di tengah kesulitan melunasi utang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, agen dari rentenir lain datang menawarkan dana segar. Mereka langsung didatangi rentenir begitu tahu mereka sedang dalam kesulitan keuangan. Warga ditawari pinjaman dengan hari penagihan yang berbeda-beda. Ada yang tagihannya setiap hari Senin, ada yang tagihannya setiap Selasa, ada pula yang menagih hari Rabu.
Pada akhirnya, warga yang terlilit utang sulit lepas dari jerat rentenir. Tak jarang warga menggadaikan aset seperti tanah atau rumah untuk melunasi utang. “Kalau tidak, pilihan lainnya ya berangkat ke luar negeri menjadi TKI,” kata dia.