Sementara itu biasanya petani melakukan penanganan sederhana untuk menekan kekhawatiran adanya potensi penyebaran penyakit dengan cara litter dan kotoran itu dibiarkan selama seminggu.
Lalu kotoran tersebut dicampur dengan tanah dan kapur sebelum disebarkan ke tanaman. Dengan demikian diharapkan bisa mematikan mikroorganisme dan dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.
“Namun kali ini kelompok tani ini sangat antusias untuk mencobakan hasil pelatihan hari ini untuk ternak dombanya dan tak sabar untuk melihat hasilnya. Ini merupakan teknologi yang merakyat dan harganya super murah, untuk ternak domba jelasnya,” terangnya.
Kata Cahya karakter litter yang terdiri dari sekam dan kotoran ayam sebaiknya dilakukan proses fermentasi lebih dahulu untuk digunakan sebagai pakan ternak ruminansia.
Proses fermentasi dapat menghasilkan panas yang memungkinkan mikroorganisme pathogen pada litter mati sehingga lebih aman digunakan.
“Litter broiler mengandung bahan organik yang digunakan sebagai sumber nutrien bagi perkembangan mikroorganisme yang kita inginkan. Hasil analisis laboratorium tentang litter fermentasi menunjukkan kandungan protein 17%, aman dari bakteri pathogen dan aman cemaran meat bone meal (MBM),” jelasnya.
Adapun komposisi litter (kotoran ayam) fermentasi terdiri dari urea, garam krosok, tetes, mineral mixs dan starter fermentasi dengan lama proses fermentasi selama 3 minggu.